Aku tak mampu membayangkan, betapa sakitnya menjadi hujan
kau hantamkan tubuhmu sendiri di punggung jalan
tanpa ada yang sedia menangkap
tanpa kepastian akan selamat
pernah saat kau akan dijatuhkan, kutengadahkan tubuhku
meski kutahu itu tak cukup membantu
tapi paling tidak, kau lebih dulu menimpaku
yang sedikit lebih lembut
dari apa yang membatu
yang ingin mengerti kesakitanmu
dan berbagi bahagia yang tak semu
kau hanya punya umur singkat
sebelum tubuhmu sendiri menuntunmu menemui ajal
disana, di dalam parit, di sungai-sungai, di tanah-tanah penghisapan
yang membawamu tiada
apa kau bahagia?
karena aku selalu percaya engkau adalah duka itu sendiri
yang menyamarkan luka melalui tangis satu sama lain
melalui suara deras, dan kejatuhan yang bebas
tidakkah kau punya keinginan berontak dan memohon di kaki Tuhanmu?
untuk tak sesuai jalan hidup teman-temanmu?
tidakkah kau ingin mengusahakan takdirmu?
barangkali memang kau terlampau baik
kau bukan dari bangsaku yang culas dan egois
kau tulus jatuh dan siap terhilang
untuk segala yang perlu curahanmu
padi dan segala tanaman, bunga dan segala pepohonan
mereka umat yang melipat tangan dan rindu kau senangkan
barangkali aku harus belajar dari caramu membahagiakan
membaca nasibmu
untuk kemudian kutuliskan di dada kekasihku
dada yang kini penuh pelangi...